May 22, 2009

Si Boim

Pada suatu malam, ada putih-putih dibalik pohon bambu. Ternyata itu adalah tuyul. Orang-orang di pos ronda pada malam itu melihatnya. Hadi, salah satu petugas ronda yang pertama melihatnya pun merasa ketakutan. Ujang yang sedang bermain catur dengan Beni tidak tahu apa-apa. Mereka hanya tahu bahwa ada anak kecil yang hilang.

Beberapa saat kemudian, tuyul itu mendekati Ujang, Hadi, dan Beni. Hadi terjerit-jerit ketakutan seperti digonggong anjing. Tapi, Beni hanya terdiam seperti kambing tuli. Beda dengan Ujang, Ujang mendekati tuyul itu dengan berani dan tuyul itu berkata,


“Kakak, kakak, tahu tidak, RT 02/07 itu di mana, ya?”

”Ooooo ku mencari anak yang dapat kutemui.. Pasti nama kamu Boim.”

“Kok, kakak tahu?” tanya tuyul itu.

“Tahu, dong.. si Boim beli gula sekilo, Ujang gitu, loh!!” jawab Ujang. Hadi dan Beni terkejut, mereka langsung gembira kembali. “Ole.. ole,ole,ole.. Boim.. ditemukan.” Hadi berkata, “Ada Tessy di API, nama panjang loe Boim Mahyadi.” Beni berkata, “Boim.. anak kecil yang paling alim.” Ujang langsung melaporkan kejadian ini ke Pak RT supaya si Boim segera diantar pulang ke rumahnya. Boim pun kembali ke rumahnya, dan ia bertemu orangtuanya. Ujang, Hadi, dan Beni pun merasa lega. Mereka berkata bak pantun,

"S Boim pergi ke Halim
Boim nyapu pake sapu lidi
Boim tuyul paling alim
Boim ilang pasti kembali"

Mereka pun merasa senang.

1 comment:

  1. adek lu pinter ngarang juga yah ka , ehehehe

    ReplyDelete

What do you think?